Waspadai Kekerasan Seksual pada Anak

 
Angka yang dihimpun dari pemberitaan media massa maupun dari pendampingan korban oleh beberapa kawan yang aktif memberikan pendampingan anak-anak korban kekerasan dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa dari 39 anak perempuan yang menjadi korban kekerasan, perkosaan dan pencabulan menduduki peringkat tertinggi dari kasus kekerasan terhadap anak perempuan. Pelaku kekerasan seksual yang paling banyak adalah orang dekat korban: ayah kandung ataupun ayah tiri, tetangga, saudara, kenalan, kakek, guru dan majikan. Namun besar atau kecilnya angka tidak menjadi sesuatu yang penting, yang lebih penting sebenarnya adalah yang terjadi dibalik angka tersebut.
Pada umumnya objek yang diberitakan oleh media massa memang berasal dari kalangan bawah, sehingga muncul anggapan bahwa peristiwa pencabulan dan pemerkosaan kepada anak-anak terjadi lebih karena persoalan kemiskinan. Namun, tidak demikian sesungguhnya. Dari hasil pendampingan, banyak juga kasus kekerasan seksual yang dialami anggota masyarakat lapisan menengah dan atas. Hanya saja mereka lebih mampu melindungi diri, sehingga peristiwa yang dianggap aib itu tidak sempat keluar dari lingkungan rumah tangga dan menjadi konsumsi publik.
Kekerasan seksual pada anak tidak selalu bermakna kekerasan fisik yang menimbulkan luka fisik serius. Kekerasan seksual juga merupakan bentuk-bentuk manipulasi dan eksploitasi anak untuk pemenuhan kebutuhan seksual orang yang lebih dewasa. Aktivitas seksual yang diwarnai dengan kekerasan dan atau ancaman kekerasan, dengan mudah dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan terhadap anak perempuan. Tetapi bagaimana halnya dengan aktivitas seksual yang tidak melibatkan kekerasan atau ancaman kekerasan?

Pendekatan Seksual oleh Orang Dewasa tidak Didefinisikan Hubungan Suka sama Suka
Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi pemerintah melalui Keppres No. 36/1990 dan Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002, menyatakan bahwa anak adalah mereka yang berusia dibawah 18 tahun. Istilah “anak”, yang dimaksud adalah orang belum dewasa, dalam arti belum memiliki kematangan rasional, emosional, sosial dan moral seperti orang dewasa. Dengan demikian, hubungan seksual antara orang dewasa dengan anak harus dilihat tanpa persetujuan atau consent dari anak. Hubungan itu tidak dapat didefinisikan sebagai hubungan suka sama suka.

Bila orang dewasa melakukan pendekatan seksual, baik dengan penganiayaan fisik ataupun melalui manipulasi dan eksploitasi, anak dengan perkembangan kognitif, moral, emosional, dan seksual yang masih terbatas tidak dapat berpikir rasional dan tidak dapat menolak pendekatan seksual tersebut. Pendekatan seksual tersebut, meski anak tidak menolaknya, harus dilihat dalam kaitannya dengan motivasi (alasan) yang ada dibalik tindakan dan tanggung jawab moral dari si orang dewasa tersebut.

Dalam hal ini, orang dewasa tersebut telah memperlakukan anak sebagai sasaran pelampiasan pemenuhan kebutuhannya, yang artinya, telah memperlakukannya sebagai objek, memanipulasi dan mengeksploitasinya tanpa peduli anak belum memiliki kesiapan untuk memahami apa yang terjadi. Pelaku juga tidak peduli pada berbagai implikasi yang mungkin terjadi pada anak menyusul manipulasi yang dilakukannya.

Karenanya, setiap kontak seksual terhadap anak – meskipun terjadi dalam hubungan perkawinan – harus dianggap dengan sendirinya sebagai tindak kekerasan. Undang-undang Perlindungan Anak tidak secara tegas mengatur sanksi  yang menyatakan bahwa persetubuhan dengan anak-anak merupakan sebuah tindak kejahatan padahal Undang-undang di AS secara tegas menyatakan persetubuhan dengan anak-anak digolongkan sebagai tindak perkosaan (statutory rape) dan Pemerintah Filipina bahkan mengancam dengan hukuman mati untuk tindak perkosaan terhadap anak di bawah umur mengingat dampaknya yang luar biasa terhadap anak perempuan.

Implikasi Kekerasan Seksual pada Anak Perempuan
Di Kota Batam, angka kekerasan seksual berupa pencabulan dan perkosaan kepada anak perempuan (yang terekspos) lebih tinggi dibandingkan kekerasan seksual berupa perkawinan anak-anak. Kekerasan seksual pada anak perempuan ini memiliki implikasi yang serius.

Respon lingkungan terdekat dan masyarakat luas menanggapi kekerasan seksual yang terjadi, berimplikasi sama seriusnya dengan kekerasan seksual itu sendiri. Perkosaan jelas berdampak pada terjadinya kehamilan bila anak telah mengalami menstruasi, dan kehamilan membawa implikasi yang berlapis-lapis: anak tidak siap dengan kehamilannya, keluarga merasa malu dan mempersalahkan anak, sementara masyarakat melekatkan stigma sosial bahwa anak telah ternoda, buruk, mempermalukan keluarga, pembawa sial atau tidak punya masa depan sehingga anak juga akan memperoleh dan mengembangkan gambaran negatif tentang dirinya sendiri.

Anak sangat mungkin dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan dan ditekan oleh keluarga. Kehamilan yang terjadi akibat kekerasan seksual yang dialami orang dewasapun memberikan tekanan luar biasa pada korban, apalagi bila itu terjadi pada anak. Tayangan media yang tidak bertanggung jawab juga menyebabkan anak menjadi pusat perhatian dimana-mana, memperoleh komentar dan pesan-pesan negatif tentang dirinya, disisihkan dari pergaulan sehingga tidak jarang pula anak dipindahkan tempat tinggalnya, diungsikan dan dicerabut dari lingkungan keluarga asalnya. Jika anak tidak mengalami kehamilan sekalipun, trauma mendalam tetap membayangi seumur hidupnya butuh waktu lama untuk memulihkan kestabilan jiwanya.

Traumatisasi Seksual
Anak yang mengalami kekerasan seksual sangat mungkin sepanjang hidupnya menunjukkan penolakan, rasa takut, jijik dan kebencian pada hal-hal yang terkait dengan seks. Korban kekerasan seksual tidak jarang mengalami hambatan dalam hubungan dengan lawan jenis, kehilangan kepercayaan pada laki-laki, mengembangkan harga diri yang rendah sebagai implikasi kekerasan yang dialami sehingga dapat menyebabkan gangguan dalam fungsi dan aktivitas seksualnya saat dia dewasa.

 

Meski lebih jarang, dalam kasus-kasus tertentu, dapat pula korban menunjukkan perhatian yang berlebihan pada aktivitas atau hal-hal terkait dengan hubungan seks. Hal ini dapat terjadi karena manipulasi dan eksploitasi seksual yang dialaminya saat masa kanak-kanak memberikan proses belajar yang salah, terjadi pada usia dini, dengan cara yang tidak sehat dan tidak bertanggung jawab.

Munculnya ketertarikan berlebihan pada hal-hal yang terkait dengan seks dengan cara yang tidak sehat juga perlu ditanggapi dengan serius. Anak perempuan yang mempunyai ketertarikan berlebihan pada hal-hal terkait seks ini sangat rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi serta kekerasan seksual dari orang-orang dewasa yang memanfaatkannya.

Penting untuk Waspada
Seluruh orang tua termasuk anak-anak sendiri sepatutnya waspada terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan seksual terhadap anak karena kekerasan seksual dapat terjadi tanpa melihat lingkungan dan latar belakang ekonomi serta pendidikannya.
Pentingnya pendidikan seks sejak dini, penanaman nilai-nilai agama dan moral, teladan dari orang tua serta komunikasi yang harmonis antara orang tua dan anak-anak dapat membuat anak lebih dapat memahami kenapa harus waspada terhadap kemungkinan kekerasan seksual terhadap dirinya. Lebih dari itu, sebaiknya orangtua juga membekali anak-anak dengan pemahaman yang benar mengenai bagaimana harus melindungi diri dari kemungkinan kekerasan seksual. Antara lain dengan mengajarkan kepada mereka untuk menghargai tubuhnya, tidak membiarkan orang lain membujuk dan menyentuhnya.
Kalau pemerintah dan masyarakat telah ramai menunjukkan responnya terhadap kekerasan seksual anak-anak di kota Batam melalui media massa, akan lebih melegakan jika semua pihak merasa berkepentingan untuk melindungi anak-anak kita dari setiap tindak kekerasan. ***

Oleh : Yayak Dahlia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: